Kamis, 25 Maret 2010

Kiat IM3 mendominasi "Pasar Anak Muda"

"Tahun 2008 merupakan the biggest growth untuk IM3,” ujar Teguh Prasetya, Group Head Brand Marketing PT Indosat Tbk. bangga. Walau tidak menyebut angka pastinya, Teguh meyakinkan bahwa hingga akhir tahun 2008, jumlah pelanggan IM3 mencapai 2/3 dari total pelanggan Indosat yang sebesar 36,5 juta pelanggan. Padahal, di akhir 2007, kontribusi IM3 baru 1/3 dari total pelanggan yang sebanyak 24,5 juta pelanggan. Dengan pertumbuhan seperti itu, tak heran IM3 disebut-sebut sebagai raja di segmen anak muda.
Jangan anggap ringan segmen anak muda ini. Teguh mengatakan, pasar anak muda merupakan pasar seluler terbesar kedua setelah pasar pekerja. Dari total populasi, segmen pasar ini jumlahnya mencapai 35%. Walaupun mereka belum memiliki penghasilan sendiri, faktanya daya beli segmen pasar ini tergolong tinggi. Pada umumnya karakter anak muda, mereka mau melakukan apa saja untuk menopang gaya hidupnya. “Ini merupakan pasar ceruk (niche market) yang kami perkirakan bisa kami tangkap,” ujar Teguh lagi.
Gede Krishna Jaya, Division Head Prepaid Brand Management – Group Brand Marketing Indosat, menyebutkan, keunggulan IM3 karena sejak pertama kali hadir pada akhir 2001, sudah menyasar anak muda. Berbeda dari pemain di industri seluler lain yang sasarannya cenderung samar-samar – gaya hidup mereka yang berjiwa muda – IM3 lugas menunjuk target sasarannya. Dengan demikian, keunggulan, teknologi, dan fitur-fitur yang ditawarkan pun lugas adanya. “Kami adalah yang pertama menawarkan layanan GPRS dan MMS,” ungkap Gede.
Positioning itu terus dipertahankan hingga sekarang. Bahkan, menurut Gede, justru ketika Indosat merger dengan Satelindo, IM3 lebih fokus lagi dalam menggarap pasar anak muda. Ini dibuktikan dengan melebur produk IM3 pascabayar (IM3 Bright) dengan produk pascabayar Satelindo menjadi Matrix. Sementara IM3 prabayar (IM3 Smart) tetap dipertahankan dan di-rebranding menjadi IM3, sedangkan produk prabayar bawaan Satelindo (Mentari) juga tetap dipertahankan. “Kedua produk ini dibedakan dari target pasarnya,” kata Gede seraya menjelaskan, IM3 menyasar segmen usia lebih muda sedangkan Mentari menyasar segmen dewasa.
Teguh mengutarakan, target yang ingin dicapai pihaknya tercipta citra anak muda tidak lengkap jika tidak menggunakan IM3. “Semua itu kami bangun lewat pesan komunikasi yang banyak menggunakan bahasa mereka (anak muda – Red.), event, dan aktivitas lain yang berjiwa muda,” ujarnya. Selain itu, lewat berbagai aktivitas yang dilakukan Indosat berupaya pula menciptakan ikatan emosional di antara pelanggannya. Indosat sadar, pasar anak muda merupakan pasar yang sangat dinamis. Karena itu, Indosat pun harus adaptif terhadap perubahan. Layanan yang ditawarkan IM3 harus bisa menjawab kebutuhan para pelanggannya. Karena itu, salah satu fokus IM3 adalah teknologi dan value-added services. “Segmen pasar yang kami sasar adalah para trend-setter, karena itu kami juga harus adaptif terhadap perubahan,” kata Teguh.
Beberapa contoh layanan yang diluncurkan IM3 untuk merespons dinamika pasar anak muda adalah dengan meluncurkan voucer khusus SMS dan voucer khusus Internet. “Kami melihat tingkat penggunaan SMS dan Internet pada pelanggan IM3 sangat tinggi, karena itu kami meluncurkan produk tersebut sehingga mereka dapat tetap SMS-an dan Internetan dengan lebih murah,” ujar Teguh.
“Layanan tersebut juga untuk menyesuaikan dengan kantong mereka,” Gede menimpali. Menurutnya, dengan layanan tersebut, akan tercipta ikatan emosional terhadap IM3. “IM3 buat anak muda adalah segala-galanya. Tidak hanya karena produk dan layanan yang lengkap, tapi juga mengerti kebutuhan mereka,” tambahnya setengah promosi.
Menurut Konsultan OctoBrand, Sumardy, keberadaan IM3 memang sangat kuat di pasar anak muda (anak sekolahan). Maklumlah, IM3 merupakan merek pertama yang secara khusus dan konsisten menggarap segmen ini pada saat merek-merek lain justru memandang sebelah mata dan cuma fokus menggarap segmen dewasa yang dianggap lebih memiliki daya beli. “IM3 yang sebelumnya dianggap saling kanibal dengan Mentari akhirnya sekarang memiliki brand positioning dan citra yang unik, yang justru menjadi jalan masuk buat Indosat di segmen early user ini,” Sumardy menyimpulkan.
Menurut Sumardy, secara produk, harga dan promosi, IM3 juga sangat fokus sehingga anak sekolah dan anak muda memiliki citra bangga. Mereka merasa IM3 merupakan merek generasinya. Sementara itu, kompetitor terlihat tidak fokus. Ada kesan, seperti merek untuk semua orang. “Bukankah pasar anak sekolah dan anak muda merupakan pasar yang sangat dipengaruhi oleh apa yang digunakan oleh teman-temannya. Di sinilah fokus IM3 membuahkan hasil,” tuturnya.
Indosat sepertinya sangat sadar akan besarnya potensi dari segmen pasar yang mereka garap. Teguh mengatakan, agar lebih fokus dalam menggarap pasar, sejak tahun lalu Indosat membentuk unit yang khusus menangani merek. Harapannya, agar lebih fokus pada perilaku dan pergerakan konsumen, sehingga setiap produk dan layanan yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Kalau pun Indosat hendak mengeluarkan produk atau layanan baru, basisnya adalah akseptensi pasar. “Tanpa itu kami semua blind,” ujarnya.
Salah satu kendaraan yang digunakan adalah IM3 Community, yakni program menggarap komunitas-komunitas. Dan khusus untuk anak muda, dibuatkan IM3 School Community. Ini merupakan program yang diberikan bagi sekolah (mulai SMP hingga perguruan tinggi), di mana pelanggan yang ada di sekolah akan mendapat manfaat khusus, seperti tarif yang lebih murah, SMS gratis dan berbagai nilai tambah lainnya. Tidak hanya anak-anak yang mendapat keuntungan, pihak sekolah pun mendapat manfaat, seperti akses wireless, broadband dan berbagai fasilitas penunjang proses belajar. Selain itu, setiap penjualan starter pack dan voucer di sekolah itu lewat koperasi sekolah, juga diberi manfaat tambahan. “Ini merupakan kerja sama yang saling menguntungkan antara Indosat dan pihak sekolah,” kata Teguh.
Syarat sekolah bisa memperoleh benefit komunitas ini adalah minimum siswa yang menggunakan IM3 dan mendaftar dalam paket komunitas sekolah berjumlah 100 pengguna yang telah melalui proses verifikasi oleh pihak sekolah dan Indosat. Mekanisme penarifan semua anggota komunitas sama dengan pelanggan reguler, yaitu per detik, tapi dengan tarif dan program spesial. Tarif khusus hanya berlaku jika menghubungi sesama anggota komunitasnya. Di awal tahun ini, Indosat menawarkan manfaat baru lagi yang tidak berbasis produk kepada sekolah. “Sekarang siswa juga bisa mengetahui jadwal ujian atau nilai lewat SMS,” ujarnya.
Teguh menambahkan, sejak tahun lalu, Indosat juga menginisiasi terbentuknya Mobile Academy. Lewat program itu, Indosat memilih dan menyeleksi siswa-siswa dari sekolah yang tergabung dalam IM3 School Community. Mereka yang terpilih kemudian diberi pelatihan khusus, selanjutnya dijadikan sebagai duta merek di masing-masing sekolah. “Tahun lalu ada 30 orang yang terpilih,” paparnya.
Ternyata, dari para duta dan juga anggota komunitas, IM3 memperoleh umpan balik yang sangat positif. Teguh menuturkan, umpan balik yang diberikan itu juga merupakan salah satu dasar bagi Indosat dalam melahirkan produk atau layanan baru. “Sekarang bukan lagi zamannya one way marketing communication,” ucap Teguh yang berhasil mengumpulkan ribuan sekolah dengan ratusan ribu anggota yang tergabung dengan IM3 School Community.
Sumardy mengatakan, IM3 menggabungkan program komunitas dengan word of mouth sehingga menimbulkan ketergantungan antarsesama pengguna. Mulai dari sekolah hingga guru dengan perjanjian kerja sama (PKS) Indosat Community di mana sekolah dan guru tidak sekadar membicarakan tentang IM3, tetapi juga mempromosikan dan menjual IM3 ke murid-muridnya. “Inilah gabungan program word of mouth dan community marketing di mana sekolah dan guru do the talking, promoting and selling,” tutur Sumardy.
Tidak hanya itu, mulai dari sekolah ke guru dan muridnya termasuk program unik untuk masing-masing kelas dengan jumlah pengguna dan pengeluaran tertentu. Ikatan jaringan sekolah yang dibangun sedemikian kuatnya sehingga akan sangat sulit bagi operator pesaing untuk menghentikan critical mass ini. “Konsumen biasanya cenderung menggunakan sebuah produk yang ’sudah digunakan oleh sejumlah orang tertentu’ yang kita sebut sebagai critical mass,” ujar Sumardy.
Menurutnya, kekuatan IM3 tentunya adalah ikatan yang dibangun dengan sekolah, guru dan anak sekolah. Tidak hanya kekuatan emosional tetapi juga rasional. Emosional di mana banyak anak sekolah menggunakan IM3 karena teman-temannya sudah pula menggunakan sehingga secara rasional akan dipersepsi lebih murah karena lebih banyak teman dengan nomor dari operator yang sama, sedangkan secara emosional anak sekolah punya jiwa following the crowd dan tidak ingin kelihatan berbeda dari temannya karena takut tidak dianggap. Hal ini yang akhirnya secara rasional dan emosional membuat anak sekolah sebagai basis anak muda menjadi pasar menggiurkan IM3 yang sebelumnya diabaikan oleh operator pesaingnya.
Menurut Sumardy, saat ini, untuk membendung laju IM3 di pasar anak muda, khususnya sekolah bukan hal yang mudah. “Harusnya kompetitor bisa melihat celah pasar lain, sama seperti saat IM3 melihat celah anak muda ketika pemain lain fokus di segmen dewasa,” ungkapnya. Mungkin, lanjut Sumardy, pemain lain bisa masuk ke segmen yang belum terlalu dilihat oleh yang lain seperti segmen anak sekolah yang lebih muda dan junior sehingga tidak perlu berperang dengan IM3.
Strategi harga, produk dan promosi IM3, disebutkan Sumardy, mungkin bisa tersaingi. Namun, satu hal yang menjadi tantangan bagaimana memecah critical mass pengguna IM3 di antara anak sekolah yang begitu tinggi? “Itu yang membuat banyak anak sekolah enggan pindah meskipun harga dan produk dari pesaing cukup kompetitif karena teman-temannya banyak menggunakan IM3. Sehingga terciptalah ketergantungan merek akibat critical mass itu,” tuturnya.
Teguh sependapat dengan Sumardy. Dia mengatakan, dengan layanan yang lengkap dan ikatan emosional yang sudah terbangun, anak muda yang biasanya cenderung tidak loyal tetap bertahan menjadi pelanggan IM3. Bahkan, pertambahan usia pelanggan tidak pula memengaruhi mereka untuk pindah. “Muda yang kami kedepankan bukan hanya dari sisi usia, tapi lebih pada ‘jiwa muda’,” ia berujar.
Salah satu program yang ditawarkan Indosat bagi pelanggan IM3 yang beranjak dewasa adalah “BlackBerry identik dengan pelanggan dewasa, tapi kami tetap menawarkan program bonus bagi pelanggan BlackBerry lewat IM3. Faktanya, pengguna BlackBerry paling banyak memang dari IM3,” ungkapnya.
Jika Indosat tetap bisa memberikan produk dan layanan yang sesuai dengan gaya hidup dan jiwa muda dari pelanggan IM3, menurut Teguh, pertambahan usia pelanggan tidak menjadi alasan mereka untuk pindah. “Karena itu, tema yang kami angkat tahun ini adalah groovy. Untuk mengakomodasi jiwa muda, bukan hanya usia muda.”
“Tahun 2008 merupakan the biggest growth untuk IM3,” ujar Teguh Prasetya, Group Head Brand Marketing PT Indosat Tbk. bangga. Walau tidak menyebut angka pastinya, Teguh meyakinkan bahwa hingga akhir tahun 2008, jumlah pelanggan IM3 mencapai 2/3 dari total pelanggan Indosat yang sebesar 36,5 juta pelanggan. Padahal, di akhir 2007, kontribusi IM3 baru 1/3 dari total pelanggan yang sebanyak 24,5 juta pelanggan. Dengan pertumbuhan seperti itu, tak heran IM3 disebut-sebut sebagai raja di segmen anak muda.
Jangan anggap ringan segmen anak muda ini. Teguh mengatakan, pasar anak muda merupakan pasar seluler terbesar kedua setelah pasar pekerja. Dari total populasi, segmen pasar ini jumlahnya mencapai 35%. Walaupun mereka belum memiliki penghasilan sendiri, faktanya daya beli segmen pasar ini tergolong tinggi. Pada umumnya karakter anak muda, mereka mau melakukan apa saja untuk menopang gaya hidupnya. “Ini merupakan pasar ceruk (niche market) yang kami perkirakan bisa kami tangkap,” ujar Teguh lagi.
Gede Krishna Jaya, Division Head Prepaid Brand Management – Group Brand Marketing Indosat, menyebutkan, keunggulan IM3 karena sejak pertama kali hadir pada akhir 2001, sudah menyasar anak muda. Berbeda dari pemain di industri seluler lain yang sasarannya cenderung samar-samar – gaya hidup mereka yang berjiwa muda – IM3 lugas menunjuk target sasarannya. Dengan demikian, keunggulan, teknologi, dan fitur-fitur yang ditawarkan pun lugas adanya. “Kami adalah yang pertama menawarkan layanan GPRS dan MMS,” ungkap Gede.
Positioning itu terus dipertahankan hingga sekarang. Bahkan, menurut Gede, justru ketika Indosat merger dengan Satelindo, IM3 lebih fokus lagi dalam menggarap pasar anak muda. Ini dibuktikan dengan melebur produk IM3 pascabayar (IM3 Bright) dengan produk pascabayar Satelindo menjadi Matrix. Sementara IM3 prabayar (IM3 Smart) tetap dipertahankan dan di-rebranding menjadi IM3, sedangkan produk prabayar bawaan Satelindo (Mentari) juga tetap dipertahankan. “Kedua produk ini dibedakan dari target pasarnya,” kata Gede seraya menjelaskan, IM3 menyasar segmen usia lebih muda sedangkan Mentari menyasar segmen dewasa.
Teguh mengutarakan, target yang ingin dicapai pihaknya tercipta citra anak muda tidak lengkap jika tidak menggunakan IM3. “Semua itu kami bangun lewat pesan komunikasi yang banyak menggunakan bahasa mereka (anak muda – Red.), event, dan aktivitas lain yang berjiwa muda,” ujarnya. Selain itu, lewat berbagai aktivitas yang dilakukan Indosat berupaya pula menciptakan ikatan emosional di antara pelanggannya. Indosat sadar, pasar anak muda merupakan pasar yang sangat dinamis. Karena itu, Indosat pun harus adaptif terhadap perubahan. Layanan yang ditawarkan IM3 harus bisa menjawab kebutuhan para pelanggannya. Karena itu, salah satu fokus IM3 adalah teknologi dan value-added services. “Segmen pasar yang kami sasar adalah para trend-setter, karena itu kami juga harus adaptif terhadap perubahan,” kata Teguh.
Beberapa contoh layanan yang diluncurkan IM3 untuk merespons dinamika pasar anak muda adalah dengan meluncurkan voucer khusus SMS dan voucer khusus Internet. “Kami melihat tingkat penggunaan SMS dan Internet pada pelanggan IM3 sangat tinggi, karena itu kami meluncurkan produk tersebut sehingga mereka dapat tetap SMS-an dan Internetan dengan lebih murah,” ujar Teguh.
“Layanan tersebut juga untuk menyesuaikan dengan kantong mereka,” Gede menimpali. Menurutnya, dengan layanan tersebut, akan tercipta ikatan emosional terhadap IM3. “IM3 buat anak muda adalah segala-galanya. Tidak hanya karena produk dan layanan yang lengkap, tapi juga mengerti kebutuhan mereka,” tambahnya setengah promosi.
Menurut Konsultan OctoBrand, Sumardy, keberadaan IM3 memang sangat kuat di pasar anak muda (anak sekolahan). Maklumlah, IM3 merupakan merek pertama yang secara khusus dan konsisten menggarap segmen ini pada saat merek-merek lain justru memandang sebelah mata dan cuma fokus menggarap segmen dewasa yang dianggap lebih memiliki daya beli. “IM3 yang sebelumnya dianggap saling kanibal dengan Mentari akhirnya sekarang memiliki brand positioning dan citra yang unik, yang justru menjadi jalan masuk buat Indosat di segmen early user ini,” Sumardy menyimpulkan.
Menurut Sumardy, secara produk, harga dan promosi, IM3 juga sangat fokus sehingga anak sekolah dan anak muda memiliki citra bangga. Mereka merasa IM3 merupakan merek generasinya. Sementara itu, kompetitor terlihat tidak fokus. Ada kesan, seperti merek untuk semua orang. “Bukankah pasar anak sekolah dan anak muda merupakan pasar yang sangat dipengaruhi oleh apa yang digunakan oleh teman-temannya. Di sinilah fokus IM3 membuahkan hasil,” tuturnya.
Indosat sepertinya sangat sadar akan besarnya potensi dari segmen pasar yang mereka garap. Teguh mengatakan, agar lebih fokus dalam menggarap pasar, sejak tahun lalu Indosat membentuk unit yang khusus menangani merek. Harapannya, agar lebih fokus pada perilaku dan pergerakan konsumen, sehingga setiap produk dan layanan yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Kalau pun Indosat hendak mengeluarkan produk atau layanan baru, basisnya adalah akseptensi pasar. “Tanpa itu kami semua blind,” ujarnya.
Salah satu kendaraan yang digunakan adalah IM3 Community, yakni program menggarap komunitas-komunitas. Dan khusus untuk anak muda, dibuatkan IM3 School Community. Ini merupakan program yang diberikan bagi sekolah (mulai SMP hingga perguruan tinggi), di mana pelanggan yang ada di sekolah akan mendapat manfaat khusus, seperti tarif yang lebih murah, SMS gratis dan berbagai nilai tambah lainnya. Tidak hanya anak-anak yang mendapat keuntungan, pihak sekolah pun mendapat manfaat, seperti akses wireless, broadband dan berbagai fasilitas penunjang proses belajar. Selain itu, setiap penjualan starter pack dan voucer di sekolah itu lewat koperasi sekolah, juga diberi manfaat tambahan. “Ini merupakan kerja sama yang saling menguntungkan antara Indosat dan pihak sekolah,” kata Teguh.
Syarat sekolah bisa memperoleh benefit komunitas ini adalah minimum siswa yang menggunakan IM3 dan mendaftar dalam paket komunitas sekolah berjumlah 100 pengguna yang telah melalui proses verifikasi oleh pihak sekolah dan Indosat. Mekanisme penarifan semua anggota komunitas sama dengan pelanggan reguler, yaitu per detik, tapi dengan tarif dan program spesial. Tarif khusus hanya berlaku jika menghubungi sesama anggota komunitasnya. Di awal tahun ini, Indosat menawarkan manfaat baru lagi yang tidak berbasis produk kepada sekolah. “Sekarang siswa juga bisa mengetahui jadwal ujian atau nilai lewat SMS,” ujarnya.
Teguh menambahkan, sejak tahun lalu, Indosat juga menginisiasi terbentuknya Mobile Academy. Lewat program itu, Indosat memilih dan menyeleksi siswa-siswa dari sekolah yang tergabung dalam IM3 School Community. Mereka yang terpilih kemudian diberi pelatihan khusus, selanjutnya dijadikan sebagai duta merek di masing-masing sekolah. “Tahun lalu ada 30 orang yang terpilih,” paparnya.
Ternyata, dari para duta dan juga anggota komunitas, IM3 memperoleh umpan balik yang sangat positif. Teguh menuturkan, umpan balik yang diberikan itu juga merupakan salah satu dasar bagi Indosat dalam melahirkan produk atau layanan baru. “Sekarang bukan lagi zamannya one way marketing communication,” ucap Teguh yang berhasil mengumpulkan ribuan sekolah dengan ratusan ribu anggota yang tergabung dengan IM3 School Community.
Sumardy mengatakan, IM3 menggabungkan program komunitas dengan word of mouth sehingga menimbulkan ketergantungan antarsesama pengguna. Mulai dari sekolah hingga guru dengan perjanjian kerja sama (PKS) Indosat Community di mana sekolah dan guru tidak sekadar membicarakan tentang IM3, tetapi juga mempromosikan dan menjual IM3 ke murid-muridnya. “Inilah gabungan program word of mouth dan community marketing di mana sekolah dan guru do the talking, promoting and selling,” tutur Sumardy.
Tidak hanya itu, mulai dari sekolah ke guru dan muridnya termasuk program unik untuk masing-masing kelas dengan jumlah pengguna dan pengeluaran tertentu. Ikatan jaringan sekolah yang dibangun sedemikian kuatnya sehingga akan sangat sulit bagi operator pesaing untuk menghentikan critical mass ini. “Konsumen biasanya cenderung menggunakan sebuah produk yang ’sudah digunakan oleh sejumlah orang tertentu’ yang kita sebut sebagai critical mass,” ujar Sumardy.
Menurutnya, kekuatan IM3 tentunya adalah ikatan yang dibangun dengan sekolah, guru dan anak sekolah. Tidak hanya kekuatan emosional tetapi juga rasional. Emosional di mana banyak anak sekolah menggunakan IM3 karena teman-temannya sudah pula menggunakan sehingga secara rasional akan dipersepsi lebih murah karena lebih banyak teman dengan nomor dari operator yang sama, sedangkan secara emosional anak sekolah punya jiwa following the crowd dan tidak ingin kelihatan berbeda dari temannya karena takut tidak dianggap. Hal ini yang akhirnya secara rasional dan emosional membuat anak sekolah sebagai basis anak muda menjadi pasar menggiurkan IM3 yang sebelumnya diabaikan oleh operator pesaingnya.
Menurut Sumardy, saat ini, untuk membendung laju IM3 di pasar anak muda, khususnya sekolah bukan hal yang mudah. “Harusnya kompetitor bisa melihat celah pasar lain, sama seperti saat IM3 melihat celah anak muda ketika pemain lain fokus di segmen dewasa,” ungkapnya. Mungkin, lanjut Sumardy, pemain lain bisa masuk ke segmen yang belum terlalu dilihat oleh yang lain seperti segmen anak sekolah yang lebih muda dan junior sehingga tidak perlu berperang dengan IM3.
Strategi harga, produk dan promosi IM3, disebutkan Sumardy, mungkin bisa tersaingi. Namun, satu hal yang menjadi tantangan bagaimana memecah critical mass pengguna IM3 di antara anak sekolah yang begitu tinggi? “Itu yang membuat banyak anak sekolah enggan pindah meskipun harga dan produk dari pesaing cukup kompetitif karena teman-temannya banyak menggunakan IM3. Sehingga terciptalah ketergantungan merek akibat critical mass itu,” tuturnya.
Teguh sependapat dengan Sumardy. Dia mengatakan, dengan layanan yang lengkap dan ikatan emosional yang sudah terbangun, anak muda yang biasanya cenderung tidak loyal tetap bertahan menjadi pelanggan IM3. Bahkan, pertambahan usia pelanggan tidak pula memengaruhi mereka untuk pindah. “Muda yang kami kedepankan bukan hanya dari sisi usia, tapi lebih pada ‘jiwa muda’,” ia berujar.
Salah satu program yang ditawarkan Indosat bagi pelanggan IM3 yang beranjak dewasa adalah “BlackBerry identik dengan pelanggan dewasa, tapi kami tetap menawarkan program bonus bagi pelanggan BlackBerry lewat IM3. Faktanya, pengguna BlackBerry paling banyak memang dari IM3,” ungkapnya.
Jika Indosat tetap bisa memberikan produk dan layanan yang sesuai dengan gaya hidup dan jiwa muda dari pelanggan IM3, menurut Teguh, pertambahan usia pelanggan tidak menjadi alasan mereka untuk pindah. “Karena itu, tema yang kami angkat tahun ini adalah groovy. Untuk mengakomodasi jiwa muda, bukan hanya usia muda.”

Pembahasan :

Majunya M3 dikarenakan komitmennya yang sangat tinggi terhadap misi jangka pendeknya.

M3 mempunyai misi menguasai pangsa pasar ditingkat anak muda dan itu benar2 dilakukan, m3 mengumpulkan semua knowledge yang ada selama didirikan dan menggunakannya langsung sesuai kebutuhan misi perusahaan.

M3 menggunakan model yang digandrungi oleh anak mudah sebagai icon M3, m3 juga memberikan fasilitas yang memanjakan anak muda seperti kemurahan dalam sms, karena m3 tau anak muda lebih sering memakai sms daripada menelepon.

Semua yang dilakukan m3 terpusat ke satu tujuan tertentu, tidak dengan rakus ingin menguasai pangsa pasar disegala tingkatan. Saya rasa dengan caranya sekarang m3 bisa mendapat keuntungan yang tinggi dengan mengeluarkan dana yang rendah dikarenakan fokusnya tujuannya.

Dengan begitu setelah sukses dengan misinya, m3 bisa menggunakan knowledgenya itu untuk misi selanjutnya dan selalu begitu, bertahap.
"Tahun 2008 merupakan the biggest growth untuk IM3,” ujar Teguh Prasetya, Group Head Brand Marketing PT Indosat Tbk. bangga. Walau tidak menyebut angka pastinya, Teguh meyakinkan bahwa hingga akhir tahun 2008, jumlah pelanggan IM3 mencapai 2/3 dari total pelanggan Indosat yang sebesar 36,5 juta pelanggan. Padahal, di akhir 2007, kontribusi IM3 baru 1/3 dari total pelanggan yang sebanyak 24,5 juta pelanggan. Dengan pertumbuhan seperti itu, tak heran IM3 disebut-sebut sebagai raja di segmen anak muda.
Jangan anggap ringan segmen anak muda ini. Teguh mengatakan, pasar anak muda merupakan pasar seluler terbesar kedua setelah pasar pekerja. Dari total populasi, segmen pasar ini jumlahnya mencapai 35%. Walaupun mereka belum memiliki penghasilan sendiri, faktanya daya beli segmen pasar ini tergolong tinggi. Pada umumnya karakter anak muda, mereka mau melakukan apa saja untuk menopang gaya hidupnya. “Ini merupakan pasar ceruk (niche market) yang kami perkirakan bisa kami tangkap,” ujar Teguh lagi.
Gede Krishna Jaya, Division Head Prepaid Brand Management – Group Brand Marketing Indosat, menyebutkan, keunggulan IM3 karena sejak pertama kali hadir pada akhir 2001, sudah menyasar anak muda. Berbeda dari pemain di industri seluler lain yang sasarannya cenderung samar-samar – gaya hidup mereka yang berjiwa muda – IM3 lugas menunjuk target sasarannya. Dengan demikian, keunggulan, teknologi, dan fitur-fitur yang ditawarkan pun lugas adanya. “Kami adalah yang pertama menawarkan layanan GPRS dan MMS,” ungkap Gede.
Positioning itu terus dipertahankan hingga sekarang. Bahkan, menurut Gede, justru ketika Indosat merger dengan Satelindo, IM3 lebih fokus lagi dalam menggarap pasar anak muda. Ini dibuktikan dengan melebur produk IM3 pascabayar (IM3 Bright) dengan produk pascabayar Satelindo menjadi Matrix. Sementara IM3 prabayar (IM3 Smart) tetap dipertahankan dan di-rebranding menjadi IM3, sedangkan produk prabayar bawaan Satelindo (Mentari) juga tetap dipertahankan. “Kedua produk ini dibedakan dari target pasarnya,” kata Gede seraya menjelaskan, IM3 menyasar segmen usia lebih muda sedangkan Mentari menyasar segmen dewasa.
Teguh mengutarakan, target yang ingin dicapai pihaknya tercipta citra anak muda tidak lengkap jika tidak menggunakan IM3. “Semua itu kami bangun lewat pesan komunikasi yang banyak menggunakan bahasa mereka (anak muda – Red.), event, dan aktivitas lain yang berjiwa muda,” ujarnya. Selain itu, lewat berbagai aktivitas yang dilakukan Indosat berupaya pula menciptakan ikatan emosional di antara pelanggannya. Indosat sadar, pasar anak muda merupakan pasar yang sangat dinamis. Karena itu, Indosat pun harus adaptif terhadap perubahan. Layanan yang ditawarkan IM3 harus bisa menjawab kebutuhan para pelanggannya. Karena itu, salah satu fokus IM3 adalah teknologi dan value-added services. “Segmen pasar yang kami sasar adalah para trend-setter, karena itu kami juga harus adaptif terhadap perubahan,” kata Teguh.
Beberapa contoh layanan yang diluncurkan IM3 untuk merespons dinamika pasar anak muda adalah dengan meluncurkan voucer khusus SMS dan voucer khusus Internet. “Kami melihat tingkat penggunaan SMS dan Internet pada pelanggan IM3 sangat tinggi, karena itu kami meluncurkan produk tersebut sehingga mereka dapat tetap SMS-an dan Internetan dengan lebih murah,” ujar Teguh.
“Layanan tersebut juga untuk menyesuaikan dengan kantong mereka,” Gede menimpali. Menurutnya, dengan layanan tersebut, akan tercipta ikatan emosional terhadap IM3. “IM3 buat anak muda adalah segala-galanya. Tidak hanya karena produk dan layanan yang lengkap, tapi juga mengerti kebutuhan mereka,” tambahnya setengah promosi.
Menurut Konsultan OctoBrand, Sumardy, keberadaan IM3 memang sangat kuat di pasar anak muda (anak sekolahan). Maklumlah, IM3 merupakan merek pertama yang secara khusus dan konsisten menggarap segmen ini pada saat merek-merek lain justru memandang sebelah mata dan cuma fokus menggarap segmen dewasa yang dianggap lebih memiliki daya beli. “IM3 yang sebelumnya dianggap saling kanibal dengan Mentari akhirnya sekarang memiliki brand positioning dan citra yang unik, yang justru menjadi jalan masuk buat Indosat di segmen early user ini,” Sumardy menyimpulkan.
Menurut Sumardy, secara produk, harga dan promosi, IM3 juga sangat fokus sehingga anak sekolah dan anak muda memiliki citra bangga. Mereka merasa IM3 merupakan merek generasinya. Sementara itu, kompetitor terlihat tidak fokus. Ada kesan, seperti merek untuk semua orang. “Bukankah pasar anak sekolah dan anak muda merupakan pasar yang sangat dipengaruhi oleh apa yang digunakan oleh teman-temannya. Di sinilah fokus IM3 membuahkan hasil,” tuturnya.
Indosat sepertinya sangat sadar akan besarnya potensi dari segmen pasar yang mereka garap. Teguh mengatakan, agar lebih fokus dalam menggarap pasar, sejak tahun lalu Indosat membentuk unit yang khusus menangani merek. Harapannya, agar lebih fokus pada perilaku dan pergerakan konsumen, sehingga setiap produk dan layanan yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Kalau pun Indosat hendak mengeluarkan produk atau layanan baru, basisnya adalah akseptensi pasar. “Tanpa itu kami semua blind,” ujarnya.
Salah satu kendaraan yang digunakan adalah IM3 Community, yakni program menggarap komunitas-komunitas. Dan khusus untuk anak muda, dibuatkan IM3 School Community. Ini merupakan program yang diberikan bagi sekolah (mulai SMP hingga perguruan tinggi), di mana pelanggan yang ada di sekolah akan mendapat manfaat khusus, seperti tarif yang lebih murah, SMS gratis dan berbagai nilai tambah lainnya. Tidak hanya anak-anak yang mendapat keuntungan, pihak sekolah pun mendapat manfaat, seperti akses wireless, broadband dan berbagai fasilitas penunjang proses belajar. Selain itu, setiap penjualan starter pack dan voucer di sekolah itu lewat koperasi sekolah, juga diberi manfaat tambahan. “Ini merupakan kerja sama yang saling menguntungkan antara Indosat dan pihak sekolah,” kata Teguh.
Syarat sekolah bisa memperoleh benefit komunitas ini adalah minimum siswa yang menggunakan IM3 dan mendaftar dalam paket komunitas sekolah berjumlah 100 pengguna yang telah melalui proses verifikasi oleh pihak sekolah dan Indosat. Mekanisme penarifan semua anggota komunitas sama dengan pelanggan reguler, yaitu per detik, tapi dengan tarif dan program spesial. Tarif khusus hanya berlaku jika menghubungi sesama anggota komunitasnya. Di awal tahun ini, Indosat menawarkan manfaat baru lagi yang tidak berbasis produk kepada sekolah. “Sekarang siswa juga bisa mengetahui jadwal ujian atau nilai lewat SMS,” ujarnya.
Teguh menambahkan, sejak tahun lalu, Indosat juga menginisiasi terbentuknya Mobile Academy. Lewat program itu, Indosat memilih dan menyeleksi siswa-siswa dari sekolah yang tergabung dalam IM3 School Community. Mereka yang terpilih kemudian diberi pelatihan khusus, selanjutnya dijadikan sebagai duta merek di masing-masing sekolah. “Tahun lalu ada 30 orang yang terpilih,” paparnya.
Ternyata, dari para duta dan juga anggota komunitas, IM3 memperoleh umpan balik yang sangat positif. Teguh menuturkan, umpan balik yang diberikan itu juga merupakan salah satu dasar bagi Indosat dalam melahirkan produk atau layanan baru. “Sekarang bukan lagi zamannya one way marketing communication,” ucap Teguh yang berhasil mengumpulkan ribuan sekolah dengan ratusan ribu anggota yang tergabung dengan IM3 School Community.
Sumardy mengatakan, IM3 menggabungkan program komunitas dengan word of mouth sehingga menimbulkan ketergantungan antarsesama pengguna. Mulai dari sekolah hingga guru dengan perjanjian kerja sama (PKS) Indosat Community di mana sekolah dan guru tidak sekadar membicarakan tentang IM3, tetapi juga mempromosikan dan menjual IM3 ke murid-muridnya. “Inilah gabungan program word of mouth dan community marketing di mana sekolah dan guru do the talking, promoting and selling,” tutur Sumardy.
Tidak hanya itu, mulai dari sekolah ke guru dan muridnya termasuk program unik untuk masing-masing kelas dengan jumlah pengguna dan pengeluaran tertentu. Ikatan jaringan sekolah yang dibangun sedemikian kuatnya sehingga akan sangat sulit bagi operator pesaing untuk menghentikan critical mass ini. “Konsumen biasanya cenderung menggunakan sebuah produk yang ’sudah digunakan oleh sejumlah orang tertentu’ yang kita sebut sebagai critical mass,” ujar Sumardy.
Menurutnya, kekuatan IM3 tentunya adalah ikatan yang dibangun dengan sekolah, guru dan anak sekolah. Tidak hanya kekuatan emosional tetapi juga rasional. Emosional di mana banyak anak sekolah menggunakan IM3 karena teman-temannya sudah pula menggunakan sehingga secara rasional akan dipersepsi lebih murah karena lebih banyak teman dengan nomor dari operator yang sama, sedangkan secara emosional anak sekolah punya jiwa following the crowd dan tidak ingin kelihatan berbeda dari temannya karena takut tidak dianggap. Hal ini yang akhirnya secara rasional dan emosional membuat anak sekolah sebagai basis anak muda menjadi pasar menggiurkan IM3 yang sebelumnya diabaikan oleh operator pesaingnya.
Menurut Sumardy, saat ini, untuk membendung laju IM3 di pasar anak muda, khususnya sekolah bukan hal yang mudah. “Harusnya kompetitor bisa melihat celah pasar lain, sama seperti saat IM3 melihat celah anak muda ketika pemain lain fokus di segmen dewasa,” ungkapnya. Mungkin, lanjut Sumardy, pemain lain bisa masuk ke segmen yang belum terlalu dilihat oleh yang lain seperti segmen anak sekolah yang lebih muda dan junior sehingga tidak perlu berperang dengan IM3.
Strategi harga, produk dan promosi IM3, disebutkan Sumardy, mungkin bisa tersaingi. Namun, satu hal yang menjadi tantangan bagaimana memecah critical mass pengguna IM3 di antara anak sekolah yang begitu tinggi? “Itu yang membuat banyak anak sekolah enggan pindah meskipun harga dan produk dari pesaing cukup kompetitif karena teman-temannya banyak menggunakan IM3. Sehingga terciptalah ketergantungan merek akibat critical mass itu,” tuturnya.
Teguh sependapat dengan Sumardy. Dia mengatakan, dengan layanan yang lengkap dan ikatan emosional yang sudah terbangun, anak muda yang biasanya cenderung tidak loyal tetap bertahan menjadi pelanggan IM3. Bahkan, pertambahan usia pelanggan tidak pula memengaruhi mereka untuk pindah. “Muda yang kami kedepankan bukan hanya dari sisi usia, tapi lebih pada ‘jiwa muda’,” ia berujar.
Salah satu program yang ditawarkan Indosat bagi pelanggan IM3 yang beranjak dewasa adalah “BlackBerry identik dengan pelanggan dewasa, tapi kami tetap menawarkan program bonus bagi pelanggan BlackBerry lewat IM3. Faktanya, pengguna BlackBerry paling banyak memang dari IM3,” ungkapnya.
Jika Indosat tetap bisa memberikan produk dan layanan yang sesuai dengan gaya hidup dan jiwa muda dari pelanggan IM3, menurut Teguh, pertambahan usia pelanggan tidak menjadi alasan mereka untuk pindah. “Karena itu, tema yang kami angkat tahun ini adalah groovy. Untuk mengakomodasi jiwa muda, bukan hanya usia muda.”
“Tahun 2008 merupakan the biggest growth untuk IM3,” ujar Teguh Prasetya, Group Head Brand Marketing PT Indosat Tbk. bangga. Walau tidak menyebut angka pastinya, Teguh meyakinkan bahwa hingga akhir tahun 2008, jumlah pelanggan IM3 mencapai 2/3 dari total pelanggan Indosat yang sebesar 36,5 juta pelanggan. Padahal, di akhir 2007, kontribusi IM3 baru 1/3 dari total pelanggan yang sebanyak 24,5 juta pelanggan. Dengan pertumbuhan seperti itu, tak heran IM3 disebut-sebut sebagai raja di segmen anak muda.
Jangan anggap ringan segmen anak muda ini. Teguh mengatakan, pasar anak muda merupakan pasar seluler terbesar kedua setelah pasar pekerja. Dari total populasi, segmen pasar ini jumlahnya mencapai 35%. Walaupun mereka belum memiliki penghasilan sendiri, faktanya daya beli segmen pasar ini tergolong tinggi. Pada umumnya karakter anak muda, mereka mau melakukan apa saja untuk menopang gaya hidupnya. “Ini merupakan pasar ceruk (niche market) yang kami perkirakan bisa kami tangkap,” ujar Teguh lagi.
Gede Krishna Jaya, Division Head Prepaid Brand Management – Group Brand Marketing Indosat, menyebutkan, keunggulan IM3 karena sejak pertama kali hadir pada akhir 2001, sudah menyasar anak muda. Berbeda dari pemain di industri seluler lain yang sasarannya cenderung samar-samar – gaya hidup mereka yang berjiwa muda – IM3 lugas menunjuk target sasarannya. Dengan demikian, keunggulan, teknologi, dan fitur-fitur yang ditawarkan pun lugas adanya. “Kami adalah yang pertama menawarkan layanan GPRS dan MMS,” ungkap Gede.
Positioning itu terus dipertahankan hingga sekarang. Bahkan, menurut Gede, justru ketika Indosat merger dengan Satelindo, IM3 lebih fokus lagi dalam menggarap pasar anak muda. Ini dibuktikan dengan melebur produk IM3 pascabayar (IM3 Bright) dengan produk pascabayar Satelindo menjadi Matrix. Sementara IM3 prabayar (IM3 Smart) tetap dipertahankan dan di-rebranding menjadi IM3, sedangkan produk prabayar bawaan Satelindo (Mentari) juga tetap dipertahankan. “Kedua produk ini dibedakan dari target pasarnya,” kata Gede seraya menjelaskan, IM3 menyasar segmen usia lebih muda sedangkan Mentari menyasar segmen dewasa.
Teguh mengutarakan, target yang ingin dicapai pihaknya tercipta citra anak muda tidak lengkap jika tidak menggunakan IM3. “Semua itu kami bangun lewat pesan komunikasi yang banyak menggunakan bahasa mereka (anak muda – Red.), event, dan aktivitas lain yang berjiwa muda,” ujarnya. Selain itu, lewat berbagai aktivitas yang dilakukan Indosat berupaya pula menciptakan ikatan emosional di antara pelanggannya. Indosat sadar, pasar anak muda merupakan pasar yang sangat dinamis. Karena itu, Indosat pun harus adaptif terhadap perubahan. Layanan yang ditawarkan IM3 harus bisa menjawab kebutuhan para pelanggannya. Karena itu, salah satu fokus IM3 adalah teknologi dan value-added services. “Segmen pasar yang kami sasar adalah para trend-setter, karena itu kami juga harus adaptif terhadap perubahan,” kata Teguh.
Beberapa contoh layanan yang diluncurkan IM3 untuk merespons dinamika pasar anak muda adalah dengan meluncurkan voucer khusus SMS dan voucer khusus Internet. “Kami melihat tingkat penggunaan SMS dan Internet pada pelanggan IM3 sangat tinggi, karena itu kami meluncurkan produk tersebut sehingga mereka dapat tetap SMS-an dan Internetan dengan lebih murah,” ujar Teguh.
“Layanan tersebut juga untuk menyesuaikan dengan kantong mereka,” Gede menimpali. Menurutnya, dengan layanan tersebut, akan tercipta ikatan emosional terhadap IM3. “IM3 buat anak muda adalah segala-galanya. Tidak hanya karena produk dan layanan yang lengkap, tapi juga mengerti kebutuhan mereka,” tambahnya setengah promosi.
Menurut Konsultan OctoBrand, Sumardy, keberadaan IM3 memang sangat kuat di pasar anak muda (anak sekolahan). Maklumlah, IM3 merupakan merek pertama yang secara khusus dan konsisten menggarap segmen ini pada saat merek-merek lain justru memandang sebelah mata dan cuma fokus menggarap segmen dewasa yang dianggap lebih memiliki daya beli. “IM3 yang sebelumnya dianggap saling kanibal dengan Mentari akhirnya sekarang memiliki brand positioning dan citra yang unik, yang justru menjadi jalan masuk buat Indosat di segmen early user ini,” Sumardy menyimpulkan.
Menurut Sumardy, secara produk, harga dan promosi, IM3 juga sangat fokus sehingga anak sekolah dan anak muda memiliki citra bangga. Mereka merasa IM3 merupakan merek generasinya. Sementara itu, kompetitor terlihat tidak fokus. Ada kesan, seperti merek untuk semua orang. “Bukankah pasar anak sekolah dan anak muda merupakan pasar yang sangat dipengaruhi oleh apa yang digunakan oleh teman-temannya. Di sinilah fokus IM3 membuahkan hasil,” tuturnya.
Indosat sepertinya sangat sadar akan besarnya potensi dari segmen pasar yang mereka garap. Teguh mengatakan, agar lebih fokus dalam menggarap pasar, sejak tahun lalu Indosat membentuk unit yang khusus menangani merek. Harapannya, agar lebih fokus pada perilaku dan pergerakan konsumen, sehingga setiap produk dan layanan yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Kalau pun Indosat hendak mengeluarkan produk atau layanan baru, basisnya adalah akseptensi pasar. “Tanpa itu kami semua blind,” ujarnya.
Salah satu kendaraan yang digunakan adalah IM3 Community, yakni program menggarap komunitas-komunitas. Dan khusus untuk anak muda, dibuatkan IM3 School Community. Ini merupakan program yang diberikan bagi sekolah (mulai SMP hingga perguruan tinggi), di mana pelanggan yang ada di sekolah akan mendapat manfaat khusus, seperti tarif yang lebih murah, SMS gratis dan berbagai nilai tambah lainnya. Tidak hanya anak-anak yang mendapat keuntungan, pihak sekolah pun mendapat manfaat, seperti akses wireless, broadband dan berbagai fasilitas penunjang proses belajar. Selain itu, setiap penjualan starter pack dan voucer di sekolah itu lewat koperasi sekolah, juga diberi manfaat tambahan. “Ini merupakan kerja sama yang saling menguntungkan antara Indosat dan pihak sekolah,” kata Teguh.
Syarat sekolah bisa memperoleh benefit komunitas ini adalah minimum siswa yang menggunakan IM3 dan mendaftar dalam paket komunitas sekolah berjumlah 100 pengguna yang telah melalui proses verifikasi oleh pihak sekolah dan Indosat. Mekanisme penarifan semua anggota komunitas sama dengan pelanggan reguler, yaitu per detik, tapi dengan tarif dan program spesial. Tarif khusus hanya berlaku jika menghubungi sesama anggota komunitasnya. Di awal tahun ini, Indosat menawarkan manfaat baru lagi yang tidak berbasis produk kepada sekolah. “Sekarang siswa juga bisa mengetahui jadwal ujian atau nilai lewat SMS,” ujarnya.
Teguh menambahkan, sejak tahun lalu, Indosat juga menginisiasi terbentuknya Mobile Academy. Lewat program itu, Indosat memilih dan menyeleksi siswa-siswa dari sekolah yang tergabung dalam IM3 School Community. Mereka yang terpilih kemudian diberi pelatihan khusus, selanjutnya dijadikan sebagai duta merek di masing-masing sekolah. “Tahun lalu ada 30 orang yang terpilih,” paparnya.
Ternyata, dari para duta dan juga anggota komunitas, IM3 memperoleh umpan balik yang sangat positif. Teguh menuturkan, umpan balik yang diberikan itu juga merupakan salah satu dasar bagi Indosat dalam melahirkan produk atau layanan baru. “Sekarang bukan lagi zamannya one way marketing communication,” ucap Teguh yang berhasil mengumpulkan ribuan sekolah dengan ratusan ribu anggota yang tergabung dengan IM3 School Community.
Sumardy mengatakan, IM3 menggabungkan program komunitas dengan word of mouth sehingga menimbulkan ketergantungan antarsesama pengguna. Mulai dari sekolah hingga guru dengan perjanjian kerja sama (PKS) Indosat Community di mana sekolah dan guru tidak sekadar membicarakan tentang IM3, tetapi juga mempromosikan dan menjual IM3 ke murid-muridnya. “Inilah gabungan program word of mouth dan community marketing di mana sekolah dan guru do the talking, promoting and selling,” tutur Sumardy.
Tidak hanya itu, mulai dari sekolah ke guru dan muridnya termasuk program unik untuk masing-masing kelas dengan jumlah pengguna dan pengeluaran tertentu. Ikatan jaringan sekolah yang dibangun sedemikian kuatnya sehingga akan sangat sulit bagi operator pesaing untuk menghentikan critical mass ini. “Konsumen biasanya cenderung menggunakan sebuah produk yang ’sudah digunakan oleh sejumlah orang tertentu’ yang kita sebut sebagai critical mass,” ujar Sumardy.
Menurutnya, kekuatan IM3 tentunya adalah ikatan yang dibangun dengan sekolah, guru dan anak sekolah. Tidak hanya kekuatan emosional tetapi juga rasional. Emosional di mana banyak anak sekolah menggunakan IM3 karena teman-temannya sudah pula menggunakan sehingga secara rasional akan dipersepsi lebih murah karena lebih banyak teman dengan nomor dari operator yang sama, sedangkan secara emosional anak sekolah punya jiwa following the crowd dan tidak ingin kelihatan berbeda dari temannya karena takut tidak dianggap. Hal ini yang akhirnya secara rasional dan emosional membuat anak sekolah sebagai basis anak muda menjadi pasar menggiurkan IM3 yang sebelumnya diabaikan oleh operator pesaingnya.
Menurut Sumardy, saat ini, untuk membendung laju IM3 di pasar anak muda, khususnya sekolah bukan hal yang mudah. “Harusnya kompetitor bisa melihat celah pasar lain, sama seperti saat IM3 melihat celah anak muda ketika pemain lain fokus di segmen dewasa,” ungkapnya. Mungkin, lanjut Sumardy, pemain lain bisa masuk ke segmen yang belum terlalu dilihat oleh yang lain seperti segmen anak sekolah yang lebih muda dan junior sehingga tidak perlu berperang dengan IM3.
Strategi harga, produk dan promosi IM3, disebutkan Sumardy, mungkin bisa tersaingi. Namun, satu hal yang menjadi tantangan bagaimana memecah critical mass pengguna IM3 di antara anak sekolah yang begitu tinggi? “Itu yang membuat banyak anak sekolah enggan pindah meskipun harga dan produk dari pesaing cukup kompetitif karena teman-temannya banyak menggunakan IM3. Sehingga terciptalah ketergantungan merek akibat critical mass itu,” tuturnya.
Teguh sependapat dengan Sumardy. Dia mengatakan, dengan layanan yang lengkap dan ikatan emosional yang sudah terbangun, anak muda yang biasanya cenderung tidak loyal tetap bertahan menjadi pelanggan IM3. Bahkan, pertambahan usia pelanggan tidak pula memengaruhi mereka untuk pindah. “Muda yang kami kedepankan bukan hanya dari sisi usia, tapi lebih pada ‘jiwa muda’,” ia berujar.
Salah satu program yang ditawarkan Indosat bagi pelanggan IM3 yang beranjak dewasa adalah “BlackBerry identik dengan pelanggan dewasa, tapi kami tetap menawarkan program bonus bagi pelanggan BlackBerry lewat IM3. Faktanya, pengguna BlackBerry paling banyak memang dari IM3,” ungkapnya.
Jika Indosat tetap bisa memberikan produk dan layanan yang sesuai dengan gaya hidup dan jiwa muda dari pelanggan IM3, menurut Teguh, pertambahan usia pelanggan tidak menjadi alasan mereka untuk pindah. “Karena itu, tema yang kami angkat tahun ini adalah groovy. Untuk mengakomodasi jiwa muda, bukan hanya usia muda.”

Pembahasan :

Majunya M3 dikarenakan komitmennya yang sangat tinggi terhadap misi jangka pendeknya.

M3 mempunyai misi menguasai pangsa pasar ditingkat anak muda dan itu benar2 dilakukan, m3 mengumpulkan semua knowledge yang ada selama didirikan dan menggunakannya langsung sesuai kebutuhan misi perusahaan.

M3 menggunakan model yang digandrungi oleh anak mudah sebagai icon M3, m3 juga memberikan fasilitas yang memanjakan anak muda seperti kemurahan dalam sms, karena m3 tau anak muda lebih sering memakai sms daripada menelepon.

Semua yang dilakukan m3 terpusat ke satu tujuan tertentu, tidak dengan rakus ingin menguasai pangsa pasar disegala tingkatan. Saya rasa dengan caranya sekarang m3 bisa mendapat keuntungan yang tinggi dengan mengeluarkan dana yang rendah dikarenakan fokusnya tujuannya.

Dengan begitu setelah sukses dengan misinya, m3 bisa menggunakan knowledgenya itu untuk misi selanjutnya dan selalu begitu, bertahap.

Knowledge management bagi sebuah perusahaan

Ada 3 hal yang utama dalam knowledge management
1. people
2. Proses
3. Technology

ketiga aspek tersebut saling terkait untuk membangun knowledge management dalam suatu perusahaan.

Knowledge dalam dunia bisnis
Dalam dunia bisnis, kecepatan dan banyaknya sumber informasi membuat pelanggan menjadi semakin cerdas dan kritis. Lalu apakah keadaan ini merupakan ancaman bagi kelangsungan sebuah bisnis ? Jawabannya bisa ya dan tidak. Ya, jika perusahaan tidak dapat terus memenuhi tuntutan pelanggan. Tidak, bila perusahaan segera menyusun kekuatan knowledge (pengetahuan + pengalaman) dan memposisikan knowledge sebagai aset utama untuk menghasilkan solusi bagi pelanggan. Kata kunci untuk membangun knowledge adalah selalu belajar dari berbagai sumber pengetahuan. Namun belajar pun tidak cukup jika tidak segera diikuti dengan menambah 'jam terbang' penerapan pengetahuan itu. Pengalaman menerapkan pengetahuan baru akan menambah nilai knowledge menjadi semakin tinggi. Dengan demikian siklus membangun knowledge terbentuk seperti bawah ini.


1. Belajar (dari berbagai sumber pengetahuan)


2. Menjadi Pengetahuan dan dianalisa


3. Bertindak/Menerapkan


4. Hasil tindakan (Gagal/Sukses)


5. Pengalaman


6. Hasil pengalaman menjadi pengetahuan yang telah diperbarui


Tuntutan untuk selalu belajar di era informasi yang semakin cepat dan deras ini adalah suatu kebutuhan yang tidak terelakkan lagi bagi siapapun. Pengetahuan, keahlian, dan keterampilan yang kita miliki terasa menjadi semakin cepat usang jika tidak selalu kita perbarui. Keadaan serba cepat inipun menuntut perubahan atau bahkan revolusi dalam cara belajar yang dimulai paling tidak dari diri kita sendiri. Pertanyaannya, bagaimanakah perubahan yang perlu dilakukan ? Karena berbagai perubahan di jaman ini disebabkan oleh kecepatan informasi, maka cara belajar yang paling efektif adalah mengikuti irama kecepatan informasi itu sendiri dan menganalisanya dalam waktu yang cepat pula. Kecepatan menganalisa informasi pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas tindakan kita berdasarkan informasi itu.
membangun knowledge organisasi perusahaan tidak membutuhkan modal kapital yang besar, namun hanya modal kemauan yang besar untuk selalu maju, mengkomunikasikan maksud baik untuk maju, dan siap berubah. Berbagi knowledge tidak akan membuat seseorang akan kehilangan kekuasaan atau kekuatannya. Bayangkan jika semua orang melakukannya. Lambat laun kita akan menyadari bahwa aset knowledge adalah aset terbesar kita. Bukan lagi sumber daya fisik dan materi yang membuat orang hanyut dalam materialisme sehingga melupakan hakekat kita sebagai manusia.